e-KYC dievaluasi bisa membuat industri teknologi finansial menghemat biaya

Pemanfaatan electronic know your customer atau e-KYC dinilai dapat membuat industri teknologi finansial menghemat tarif sampai Rp61 triliun. Pembantu Deputi Keuangan Inklusif dan Keuangan Syariah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Erdiriyo menerangkan bahwa optimalisasi teknologi dapat menekan beban operasional institusi jasa keuangan. Sejumlah progres bahkan dapat dilaksanakan dengan pesat dengan biaya yang lebih relatif murah.

Perkembangan digital di era kini ini tentu dapat menolong masyarakat dalam melakukan aktivitas serta memenuhi keperluan, terpenting yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat administratif, mengajukan pinjaman online, berbelanja online, atau melakukan transaksi melewati platform elektronik lainnya sebab dirasa lebih sederhana dan efisien. Dengan metode elektronik, konsumen bisa segera mengisi data pribadi tanpa semestinya bertatap muka dengan penyedia jasa/platform.

e-kyc di indonesia mengakses data, baru-baru ini Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil mengumumkan tentang pemberian akses data kependudukan penduduk ke 2,108 lembaga, termasuk di dalamnya perusahaan pinjaman (peer-to-peer lending) dan institusi jasa keuangan lainnya, di mana data-data hal yang demikian berupa nomor induk kependudukan, alamat, pekerjaan, jumlah member keluarga dan data terkait lainnya yang akan dipakai untuk tujuan verifikasi.

Pembukaan data kepada calon konsumen ini bertujuan untuk memenuhi prinsip Know Your Customer (KYC) atau prinsip mengenal nasabah, yang juga searah dengan kebijakan Otoritas Jasa Keuangan mengenai pengerjaan prinsip KYC secara elektronik, yang secara lazim diketahui dengan e-KYC.

Dalam hal mengakses data konsumen tentunya erat hubungannya dengan perlindungan data pribadi. Namun, Indonesia sendiri masih belum memiliki satu payung regulasi yang secara khusus memegang perihal perlindungan data pribadi. Ketetapan berkaitan hal hal yang demikian masih tersebar di berbagai regulasi, sementara Rancangan Undang-Undang tentang Perlindungan Data Pribadi masih dalam tahap negosiasi oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Seiring dengan itu, masyarakat biasa saat ini memiliki risiko yang lebih besar kepada kebocoran data pribadi sebab dibukanya jalan masuk hal yang demikian.

Berangkat dari keperluan untuk lebih memahami secara mendalam mengenai penerapan e-KYC di Indonesia bagi pelaku usaha atau institusi jasa keuangan secara pas baik dari segi regulasi dan bisnis, Hukumonline akan menyelenggarakan Webinar Hukumonline 2020. Seminar online kali ini akan mengangkat tema “Perkembangan dan Pemakaian e-KYC di Indonesia bagi Perusahaan” yang akan dilaksanakan pada Selasa, 18 Agustus 2020, melewati platform Zoom Webinar.

Dalam webinar ini akan hadir 3 narasumber yang kompeten dalam bidangnya yang akan memaparkan lebih jelas berhubungan pemakaian serta perkembangan metode e-KYC dari segi aturan dan bisnis. Ketiga narasumber tersebut yakni Semuel A. Pangerapan (Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI), Erwandi Hendarta (Senior Partner, HHP Law Firm), dan Mahardikha Sardjana (Partner, HHP Law Firm). Webinar ini juga akan dimoderatori oleh Vania Natalie (Sah Analyst, Hukumonline.com).

Hukumonline membuka registrasi pembicaraan ini bagi yang beratensi, terutama bagi perusahaan dan firma tata tertib. Jangan sampai melewatkan kans ini, daerah terbatas, first come first served!Jika Anda berminat, silakan klik di sini.

Sebagaimana yang diketahui bahwa persyaratan KYC di sektor jasa keuangan awalnya digunakan untuk bank dengan diterbitkannya Tertib Bank Indonesia No. 3/10/PBI/2001 Tahun 2001 seputar Penggunaan Prinsip Mengenal Nasabah (Know-Your-Customer Principle). Di mana hukum hal yang demikian mewajibkan bank lazim untuk bertatap muka dengan calon nasabah secara seketika untuk memverifikasi data.

Regulasi hal yang demikian kemudian mengalami perkembangan, meski dalam perkembangannya bank tetap belum dibiarkan untuk menggunakan media elektronik dalam mengakses data, hingga OJK menerbitkan POJK12/2017 di mana terdapat kelonggaran adalah verifikasi bisa dijalankan dengan menerapkan media/sarana elektronik yang secara spesifik tercantum dalam Pasal 17, yang tentunya memiliki beberapa persyaratan tertentu.

Apa Itu Kerja KYC (Know Your Customer)?

Mungkin beberapa dari Anda masih merasa asing dengan istilah KYC (Know Your Customer). Khusus bagi Anda yang baru pertama kali memasuki dunia aset kripto.

Istilah Know Your Customer sebetulnya sudah sungguh-sungguh lumrah digunakan. Umumnya, istilah ini dipakai dalam layanan penyedia jasa keuangan untuk menjalankan verifikasi identitas pengguna. Zipmex menjadi salah satu platform investasi dan jual beli aset digital yang memakai KYC dalam aktivitasnya. Oleh sebab itu, kali ini Zipmex akan mengulas apa itu KYC, fungsinya, dan seperti apa pelaksanaan Know Your Customer.



Apa Itu KYC (Know Your Customer)?
KYC yakni singkatan dari Know Your Customer atau Know Your Clients. Kegiatan KYC merupakan upaya yang dilaksanakan lembaga keuangan dan investasi untuk menentukan serta memverifikasi identitas yang dimiliki oleh seseorang atau organisasi. Dalam hal ini, Know Your Customer biasanya merujuk pada pengguna layanan.

Cara verifikasi Know Your Customer biasanya melibatkan beberapa tahap, salah satu di antaranya yaitu men-upload dokumen identitas. Metode tersebut dijalankan untuk memutuskan akun yang dijadikan oleh pengguna bukanlah akun palsu. Sehingga layanan keuangan bisa meminimalisasi serta mencegah tindak kecurangan atau transaksi yang mencurigakan.

cara kerja KYC
Siapa Saja yang Menerapkan Pengerjaan KYC?
Cara KYC lazimnya diterapkan oleh layanan penyedia jasa keuangan seperti perbankan. Prinsip KYC perbankan tertuang pada Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana sudah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan (UU Perbankan).

Di Indonesia sendiri, KYC adalah pengerjaan yang awam dipakai oleh jasa perbankan. KYC dalam dunia perbankan diaplikasikan untuk mengenal isu mengenai nasabah bank tertentu. Seperti yang diberitakan dari PPATK, KYC perbankan diatur secara khusus dalam Aturan Bank Indonesia Nomor 3-10-PBI-2001 perihal Penggunaan Prinsip Mengetahui Nasabah.

Pada Pasal 1 ayat 2 aturan ini, prinsip KYC dalam perbankan didefinisikan sebagai prinsip yang seharusnya diterapkan. KYC bermanfaat untuk mengenal identitas nasabah, memantau aktivitas transaksi nasabah, termasuk pelaporan transaksi yang mencurigakan. Tapi saat ini, metode Know Your Customer diaplikasikan secara tak terbatas. Perusahaan fintech, telekomunikasi, dan pelbagai jenis perusahaan penyedia jasa lainnya juga turut mengaplikasikan cara serupa.

Apa Tujuan Cara KYC?
Setelah mengenal apa itu KYC dan siapa saja yang memakai cara kerja Know Your Customer, saatnya kita mengenal tujuan progres Know Your Customer.

Progres KYC dilakukan untuk menghindari tindak korupsi, penyuapan, atau pencucian uang. Tak hal yang demikian dilaksanakan guna memutuskan keamanan Anda, pelanggan lain, dan platform penyedia layanan itu sendiri. Tanpa proses Know Your Customer, Anda juga tidak akan merasa hening mempercayakan uang Anda terhadap bank atau platform lainnya. Apabila hingga itu saja, Anda mungkin akan ragu dan merasa cemas ketika melakukan transaksi lainnya.

Bila bank membolehkan siapa saja untuk membuka rekening secara acak, akan muncul kemungkinan pihak tidak bertanggung jawab membuka rekening atas nama Anda tentu kian besar. Rekening ‘palsu’ itu dapat saja dibuat untuk tujuan ilegal yang bisa merugikan Anda.


Kemungkinan terburuknya, data Anda bisa disalahgunakan untuk transaksi yang bersifat kezaliman. Cara itu, progres KYC juga akan menolong institusi keuangan untuk memperoleh berita mengenai preferensi pengguna. Sehingga, perusahaan bisa memaksimalkan layanan mereka layak dengan kebutuhan nasabah.



They posted on the same topic

Trackback URL : https://slimeinch47.bravejournal.net/trackback/5733857

This post's comments feed